Ayah jadi pengasuh kini semakin terlihat dalam keseharian keluarga. Waktu yang dihabiskan ayah untuk merawat anak naik dari sekitar dua setengah jam per minggu pada 1965 menjadi rata-rata sembilan jam pada 2024, menandai pergeseran yang berlangsung bertahap selama beberapa dekade.

Perubahan ini tampak juga pada komposisi peran orang tua: persentase ayah yang tidak bekerja karena menjadi orang tua utama atau mengurus rumah meningkat dari 4% pada 1989 menjadi 23% pada 2021. Di ayah yang bekerja penuh waktu, 11% menganggap diri mereka sebagai pengasuh utama dibandingkan 37% pada ibu.
Perubahan pasar kerja dan waktu kerja
Peralihan peran ini berkaitan erat dengan dinamika pasar tenaga kerja. Pada 1990-an, pria memegang hampir 7 juta pekerjaan lebih banyak dibandingkan wanita, namun pada awal 2026 kesenjangan itu nyaris tertutup. Mei 2025 dan April 2026, pria kehilangan sekitar 1,5 juta pekerjaan sementara wanita justru menambah 844.000 pekerjaan.
Sebelum 2019, pria menikah rata-rata bekerja hampir 15 jam lebih banyak per minggu dibanding istri mereka. Selama periode 2019–2024 selisih itu menyusut sekitar 4 jam, dan tiga perempat dari penurunan itu datang karena ayah mengurangi jam kerja, bukan karena ibu menambah jam. Selain itu, tiga perempat dari pertumbuhan lapangan kerja pada 2025 berasal dari sektor kesehatan dan jasa sosial—bidang yang didominasi pekerja perempuan—sementara sektor transportasi dan manufaktur yang mayoritas berisi pekerja laki-laki justru mengalami pengurangan tenaga kerja.
Beragam bentuk pengasuhan ayah
Bentuk pengasuhan ayah beragam: beberapa bekerja shift malam, ada yang bekerja sebagian waktu atau lepas, dan ada pula yang melakukan pekerjaan penuh di sela-sela tugas rumah. Seorang pekerja media yang berbasis di Connecticut, yang berbicara dengan syarat menggunakan nama samaran, menggambarkan rutinitasnya saat masih bekerja malam: pulang saat istri tiba, menyerahkan urusan anak, lalu berangkat bekerja tengah malam. Setelah di-PHK, satu-satunya yang berubah adalah waktu yang ia habiskan bersama anak per malam.
Pengangkatan peran pengasuh juga dipengaruhi oleh pola freelance. Pada 2024, 71% dari kontraktor independen adalah pria. Pada Juli 2023, hampir 7% pekerja usia 25–54 merupakan kontraktor independen sebagai pekerjaan utama; pria lebih mungkin menjadi kontraktor (8,7%) dibanding wanita (5,8%). Sebagai contoh, seorang profesional pemasaran di Texas yang juga memakai nama samaran mengalami dua kali PHK sejak menjadi ayah dan beralih ke kerja lepas sambil mengasuh anak. Ia bercerita, “When our daughter was born, I watched her for the first six months. We didn’t put her in daycare. I worked from home Monday, Wednesday, Friday, and I had her with me, playing on the floor while I worked.” Ia menambahkan, “I’ve pretty much worked from home since my firstborn was born. I don’t know any different.”
Ada pula ayah yang bekerja dari rumah namun tetap menjadi pengasuh utama dengan menata jam kerja di pagi dan malam hari. Seorang ayah dari New Jersey mengatakan, “I will do everything that I can to fit in seven honest hours of work every day, and if I don’t, I carry it over to the weekend.” Tentang keseimbangan akhir pekan, ia menegaskan, “Ultimately, by the end of the week, I feel like I’ve done what I’ve needed to.”
Stigma, dukungan, dan pandangan publik
Meski jumlah ayah yang mengambil peran pengasuh utama meningkat, stigma masih terasa. Organisasi pendukung ayah yang menjadi pengasuh utama menegaskan bahwa istilah “stay-at-home dad” juga dapat mencakup mereka yang melakukan pengasuhan harian anak di bawah 18 tahun. Presiden organisasi itu, yang telah menjadi pengasuh penuh waktu sejak 2015, mengatakan, “Men identify with what we do and what we bring to our family. It’s hard for us at first to rationalize the value we bring to our family by being the primary caregiver.” Ia menambahkan harapannya untuk mengubah narasi dan menolak stereotip seperti label “babysitter” terhadap ayah yang mengurus rumah tangga: “We’re both parents,” dan “We’re both equal parts in this and raising our children for the future.”
Sebuah survei kecil terhadap 207 ayah menunjukkan bahwa sekitar separuh dari mereka merasakan stigma, dan dari kelompok itu sekitar 70% mengalaminya dalam interaksi dengan ibu yang tinggal di rumah. Interaksi semacam ini didapati berkaitan dengan tingkat kesedihan dan stres yang lebih tinggi pada ayah pengasuh utama dibandingkan ibu yang tinggal di rumah maupun orang tua yang bekerja.
Bagi banyak ayah, peran ini bukan sekadar pilihan karier tetapi respons terhadap kebutuhan keluarga—entah karena PHK, fleksibilitas freelance, atau jam kerja yang bergeser. Mereka umumnya menyatakan tidak akan menukar posisi itu untuk pekerjaan impian sekalipun, karena merasa peran itu paling cocok bagi keluarganya. Seorang ayah berbagi, “Immediately after the meeting, I decided we were going to the zoo,” dan mengenang reaksi anaknya: “My eldest figured out the layoff. She said, ‘Did Papa get fired? Yay! You get to stay home at night now.’” Di akhir, ia menyimpulkan perannya dengan sederhana: “I’m just a father who’s doing what fathers do.”

















































































