Istilah centenials del crimen kini digunakan untuk menggambarkan generasi muda dalam kelompok bersenjata yang memanfaatkan teknologi untuk mempengaruhi opini publik. Modus operandi terbaru melibatkan penyebaran video dan foto yang telah dimanipulasi secara digital agar tampak meyakinkan meski menyesatkan.

Kasus-kasus manipulasi ini menjadi perhatian setelah rekaman yang menampilkan Ivan Idrobo Arredondo (“Marlon”) dan Juan Diego Palta Montero (“Ñeque”) beredar pada 27 Juni dan 19 Juli. Pemeriksaan forensik militer menemukan tanda-tanda pengeditan yang menunjukkan rekaman tersebut tidak asli.
Analisis forensik dan kebingungan publik
Penyebaran ulang video yang menampilkan “Marlon” menimbulkan kontroversi karena pemerintah sebelumnya melaporkan kematian tokoh itu dalam operasi militer di Buenaventura, Valle, pada 20 Juni; sementara kematian “Ñeque” dilaporkan beberapa hari kemudian di Toribío, Cauca. Untuk memastikan kebenaran, Intelijen Militer melakukan verifikasi yang lebih mendalam.
Hasilnya, menurut satu pernyataan resmi, rekaman itu menjalani “un análisis forense integral que permitió identificar múltiples inconsistencias técnicas compatibles con un contenido manipulado digitalmente”. Temuan ini menegaskan bahwa pihak-pihak tertentu memakai alat digital untuk menciptakan kebingungan dan meragukan hasil operasi negara.
Teknik dan aktor di balik manipulasi
Militer menyebutkan bahwa teknik manipulasi ini dikembangkan oleh anggota generasi muda yang lahir akhir 1990-an—sering disebut sebagai centenials atau Generasi Z—yang tumbuh bersama media sosial, ponsel pintar, dan kecerdasan buatan. Para centenials ini bekerja berdampingan dengan anggota lama yang berpengalaman secara taktis, sehingga menggabungkan keahlian lama dan kemampuan digital baru.
Kemampuan tersebut bukan hanya untuk menipu publik; ada juga tujuan strategis lain, seperti menutupi konflik internal atau mengalihkan perhatian lawan. Contoh manipulasi serupa muncul dalam rekaman kelompok lain pada 23 dan 26 Maret 2023, ketika pemimpin yang sebelumnya tidak hadir ditambahkan ke video dengan teknik montase sehingga tampak seolah hadir.
Farándula del crimen dan dampaknya pada perekrutan
Fenomena yang disebut “farándula del crimen” menggambarkan gaya hidup glamor yang dipamerkan oleh beberapa centenials bersenjata. Salah satu contoh adalah Neider Yesid López (“Primo Gay”), 24 tahun, yang sempat memanfaatkan gambar berpura-pura tewas—setelah mengalami luka ringan—dengan tujuan memanipulasi persepsi di kalangan publik dan kontak pribadi.
Selain itu, Naín Andrés Pérez Toncel (“Bendito Menor”), 26 tahun, dan kekasihnya Rosa Angélica Tarazona (“la Bebecita”) kerap memamerkan kehidupan mewah di media sosial: senjata, kendaraan mewah, pesta, dan karavan motor yang melintas di La Guajira dan Magdalena. Gaya hidup semacam ini, menurut sumber, bertujuan memikat kaum muda melalui citra keberanian, pesta, dan status sosial.
Teknik tersebut juga dipakai untuk menantang otoritas. Setelah presiden terpilih Abelardo de la Espriella menyatakan pada 9 Juli bahwa “Bendito Menor” adalah sasaran militer, yang bersangkutan merespons dengan video melakukan aksi berbahaya di motor sambil mengatakan ia merasa “melo” dan menulis: “Mi patria va más allá de simples palabras, porque mi patria es mi firma”.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa perang informasi kini menjadi bagian penting dari konflik bersenjata. Penyebaran konten palsu tidak hanya mengaburkan fakta di lapangan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi dukungan, rekrutmen, dan persepsi publik terhadap tindakan aparat. Upaya verifikasi forensik dan kewaspadaan publik menjadi kunci untuk menangkal dampak disinformasi, terutama saat teknologi pengeditan semakin mudah diakses.

































































































