MBI menegaskan ambisinya agar industri semikonduktor di Malaysia dan Indonesia berkembang pesat dan mampu menjadi pengeluar utama litar bersepadu. Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Pegawai Eksekutif Kumpulan Datuk Saipolyazan M. Yusop saat mempresentasikan peluang pelaburan Selangor pada SIBS@ASEAN 2026 di Bandung; acara ini menyorot potensi kolaborasi lintas-negara dalam sektor teknologi.

Dalam paparan yang mengangkat tema “Selangor–Indonesia Sovereign Synergy: Scaling ASEAN’s Economic Future”, Saipolyazan menjelaskan bahwa Selangor telah membangun ekosistem pendukung yang lengkap—mulai dari infrastruktur hingga program pengembangan bakat—yang membuka ruang bagi perusahaan teknologi Indonesia untuk memperluas jangkauan ke pasar ASEAN.
Kesempatan strategis bagi perusahaan Indonesia
Saipolyazan menekankan dua jalur strategi yang ditawarkan Selangor bagi perusahaan teknologi asal Indonesia. “Bagi syarikat teknologi Indonesia, Selangor menawarkan dua laluan strategik. Pertama, sebagai pangkalan operasi serantau untuk mengembangkan perniagaan ke pasaran ASEAN. Kedua, sebagai rakan strategik dalam sektor digital dan semikonduktor bagi menyokong aspirasi pembangunan teknologi Indonesia,” kata beliau dalam sesi tersebut. Penekanan ini menyiratkan peluang bagi perusahaan yang ingin mengakses ekosistem produksi, desain, dan talenta di wilayah itu.
Infrastruktur dan pusat desain IC
Menurut Saipolyazan, upaya memperkuat ekosistem di Selangor meliputi pembangunan jaringan gentian optik yang didukung pemerintah negeri, solusi kota pintar, serta inisiatif keterhubungan publik. Wilayah Cyberjaya disebut sebagai salah satu klaster teknologi yang mendukung aktivitas riset dan inovasi. Selain itu, Selangor kini memiliki hab reka bentuk litar bersepadu (IC) di Puchong dan Cyberjaya yang dipasangkan dengan program latihan teknikal untuk menjawab kebutuhan industri.
Detail proyek: Hab Puchong dan Hab Cyberjaya
Salah satu proyek yang sudah berjalan adalah Hab Puchong (Fasa 1). Saipolyazan menyatakan, “Ia menempatkan lebih 200 jurutera daripada 14 syarikat semikonduktor, dengan penyewa utama termasuk SkyeChip, MaiStorage dan Weeroc.” Luas fasilitas itu mencapai 60,000 kaki persegi dan saat ini beroperasi pada kapasiti penuh. Adapun manfaat ekonomi yang diharapkan tidak hanya langsung; menurutnya, “Hab Puchong dijangka menjana pulangan ekonomi tidak langsung bernilai RM500 juta hingga RM1 bilion.”
Sementara itu, Hab Cyberjaya (Fasa 2) memuat inisiatif pengembangan sumber daya manusia. Di sana berdiri Akademi Semikonduktor Malaysia Lanjutan yang menargetkan pembentukan 20,000 jurutera semikonduktor dalam kurun waktu 10 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat keterlibatan Selangor dalam rantai nilai semikonduktor global dan menyediakan tenaga ahli yang dibutuhkan industri.
Visi kolaborasi regional
Saipolyazan menekankan bahwa pertemuan wakil Selangor dan Indonesia dirancang bukan sekadar forum perdagangan atau promosi pelaburan. Tujuannya lebih luas, yaitu memperkokoh rantai nilai regional, membuka peluang investasi baru, dan membentuk fase pertumbuhan ASEAN selanjutnya. “Kita kini telah menjadi sebahagian daripada rantaian nilai semikonduktor global dan pada masa yang sama, kerjasama Selangor dan Indonesia juga terbuka luas untuk diterokai,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masa depan ASEAN akan dibentuk oleh kolaborasi yang menghubungkan modal, infrastruktur, bakat, teknologi, dan kemampuan pelaksanaan—bukan hanya oleh mekanisme pasar. MBI Selangor, sebagai badan investasi strategis pemerintah negeri, diposisikan untuk mempertemukan peluang dengan mitra yang tepat serta memastikan gagasan strategis berubah menjadi proyek konkret.
Saipolyazan berharap sesi di Bandung itu mampu memicu diskusi praktis mengenai langkah bersama Selangor dan Indonesia untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan transformasi teknologi di kawasan ASEAN.






































































