Dalam dunia seni, Lu Yang menantang batas antara teknologi dan filsafat dengan mengeksplorasi konsep diri melalui pameran bertajuk “DOKU! DOKU! DOKU!: samsara.exe.” Pameran ini mengundang kita untuk mempertanyakan eksistensi dan definisi diri dalam konteks digital dan spiritual, mengubah kesalahan komputer menjadi ruang ekspresi yang kaya akan makna. Melalui film CGI yang kompleks, Lu Yang mendorong penonton untuk merenungkan relevansi diri dalam dunia modern yang sangat bergantung pada teknologi.
Menemukan “Diri” dalam Kesalahan Biner
Satu tema sentral dalam pameran ini adalah “404: SELF NOT FOUND”, sebuah referensi terhadap kesalahan digital yang menunjukkan tidak ditemukannya data. Dalam kacamata Lu Yang, hal ini bukanlah kegagalan teknis, melainkan kesempatan untuk membebaskan diri dari konsep diri yang tradisional. Dengan memanfaatkan kesalahan tersebut, pameran ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan seperti apa ruang yang ada di luar struktur diri yang telah dikenal.
Jelajah Samsara dalam Dunia Digital
Pertanyaan tentang titik pertemuan antara spiritualitas dan teknologi diperdalam melalui pameran ini. Dengan mengacu pada terminologi Buddha seperti ‘samsara’, Lu Yang mengaitkan siklus kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali dalam konteks digitalisasi. Ini menuntun pemirsa untuk mengelaborasi bagaimana pikiran dan jiwa dapat berpindah dan bereinkarnasi dalam lanskap virtual, serta bagaimana batas-batas antara nyata dan maya semakin tipis.
CGI sebagai Metafora untuk Kesadaran
Keahlian Lu Yang dalam menciptakan film CGI menjadi jantung dari pamerannya, berfungsi tidak hanya sebagai alat visual tetapi juga sebagai metafora yang dalam untuk kesadaran manusia. Setiap film yang ditampilkan mewakili aspek berbeda dari perjalanan spiritual, mengajak penonton untuk mengalami pergeseran perspektif dari materi ke etereal. Visual yang intens dan dramatis memaksa penonton untuk bertahan dan berefleksi, menggugat presumpsi tentang esensi dari identitas diri.
Tantangan Terhadap Eksistensialisme Modern
Lebih dalam, Lu Yang menantang konsep eksistensialisme modern melalui seni digitalnya. Di zaman ketika identitas sering dibangun dan diubah dalam ruang virtual, pertanyaan yang diajukannya menjadi semakin relevan. Apakah ‘diri’ yang kita bangun di media sosial dan dunia digital lainnya benar-benar mencerminkan ‘diri’ sejati kita? Bagaimana peran teknologi memengaruhi esensi dari eksistensi kita? Melalui pameran ini, Lu Yang berhasil menekankan urgensi untuk menemukan keseimbangan antara fisik dan digital.
Transformasi Sebagai Kunci Pembebasan
Pameran ini juga menyoroti transformasi sebagai cara untuk mencapai pembebasan dari siklus samsara, sebuah ide fundamental dalam ajaran Buddha. Dalam simulasi digital, transformasi mengambil bentuk baru, memungkinkan penonton berimaginasi dan mengalami perubahan secara virtual. Dengan ini, Lu Yang menunjukkan bahwa pembebasan sejati mungkin terletak pada kemampuan kita untuk beradaptasi dan menerima fluiditas identitas kita sendiri.
Kesimpulan: Lu Yang dan Masa Depan Diri Digital
Pameran Lu Yang, “DOKU! DOKU! DOKU!: samsara.exe,” tidak hanya sebuah pencapaian artistik tetapi juga refleksi mendalam tentang kemanusiaan dan teknologi di era modern. Dengan menggabungkan elemen spiritual dan digital, karya ini membuka dialog baru tentang definisi dan eksistensi dari ‘diri’. Dalam era di mana teknologi semakin memengaruhi bagaimana kita melihat diri kita sendiri, pengertian Lu Yang tentang ketiadaan sebagai pembebasan menghadirkan peluang untuk menemukan jati diri di dunia yang begitu cepat berubah.
































